Pelatih satu dari 3 faktor kegagalan Timnas

Usai pertandingan, pelatih Timnas, Wim Rijsbergen berkilah seperti ini: "If you defend like this it's very hard to win a game. It's good to see at least that we can score some goals."

Saya beranggapan komentar Wim seperti itu kurang mengharga kerja keras anak asuhannya, terutama di sektor pertahanan. Dia menyalahkan pemain bawah atau sistem pertahanan yang begitu rapuh sehingga mudah dibobol lawan saat menjamu Qatar beberapa hari lalu. Namun, pelatih kurang mampu melihat kelemahan dirinya yang seharusnya Wim musti bertanggung jawab atas kegagalan timnya untuk memenangkan pertandingan, khususnya di kandang sendiri, di hadapan para pendukungnya yang fanatik.

Jika bermain di luar kandang pecinta sepakbola di tanah air masih bisa menerima kekalahan, seperti kalah telak versus Iran, namun bermain di kandang sendiri seharusnya wajib menang. Jadi, menyalahkan pemain bawah atau sistem pertahanan tentu tidak bisa lepas dari kegagalan pelatih dalam persiapan dan saat menentukan para pemain yang turun sebagai starter. Pelatih juga musti bisa melihat dan menjaga kondisi prima seluruh pemainnya sampai hari-H pertandingan. Tapi, hal itu sepertinya diabaikan pelatih. Bahkan, pemain andal seperti Boas sempat ‘ngambek’ dan tidak disiplin mengikuti jadwal latihan Timnas, anehnya pelatih dan pengurus tak berani menindak tegas.

Kalau Wim menyimpulkan sistem pertahanan Timnas begitu rapuh sehingga dengan kondisi seperti itu akan sulit buat Timnas memenangkan pertandingan hal itu sangat benar. Itu terbukti pada dua pertandingan sebelumnya saat dipecundangi Iran 0-3 dan Bahrain 0-2. Ya, seberapa tajam dan produktifnya barisan penyerang, seperti diperlihatkan Gonzales saat melawan Qatar pun kalau kerjasama pertahanannya rapuh hasilnya hampir pasti kalah. Terbukti, saat pemain naturalisasi asal Uruguay itu mencetak dua gol-- tetap saja hasilnya Timnas kalah sekaligus mengubur peluang lolos ke Piala Dunia hanya mimpi belaka. Apalagi kalau menyerangnya tumpul.

Namun begitu, saya sebagai penonton tidak puas-puas amat dengan kedua gol yang dihasilkan Timnas. Mengapa? Lebih karena faktor keberuntungan. Sebab, tidak melalui kerjasama yang bagus dan tidak dirancang dengan apik. Sehingga strategi yang diterapkan Wim dapat dikatakan tidak jelas.

Lihat saja gol pertama Timnas. Striker Christian Gonzales menyamakan skor menjadi 1-1. Diawali upaya Bambang Pamungkas dari lapangan tengah menendang bola ke gawang, dapat diblok kiper Qatar, Malick Baba, bola mental persis di hadapan Gonzales sehingga dengan mudahnya ia menjaringkan gol. Saat Indonesia tertinggal 1-2 akibat blunder kiper Timnas, Fery Rotinsulu, pada menit ke-35 kembali striker yang sudah melewati puncak performanya itu didampingi ‘dewi fortuna’. Dengan tak disangka bola yang maksudnya di-shooting ke mulut gawang oleh rekannya malah melenceng jauh ke kaki pemain  kelahiran Uruguay itu. Gonzales pun dengan skillnya yang tinggi cukup mengarahkan bola, kembali Timnas menyamakan 2-2.

Sedangkan gol-gol Qatar tampak lebih terencana dari hasil kerjasama dan individual pemainnya yang memiliki stamina jauh lebih konstan dibandingkan para pemain Timnas. Pelatih Qatar, Sebastiao Lazaroni terlihat jauh lebih berhasil dalam mempersiapkan para pemainnya dan mengatur strategi bertahan maupun menyerang, sehingga tidak tertutup Qatar dengan berlatih lebih keras dapat lolos kualifikasi Grup E zona Asia Pra-Piala Dunia 2014.

Bagaimana dengan komentar para pemain Timnas, puaskah mereka?

Kita tampilkan ‘uneg-uneg’ kapten Timnas Indonesia, Bambang Pamungkas. Dia tidak memungkiri Timnas tidak bermain dengan total saat menjamu Qatar dalam laga lanjutan kualifikasi Pra-Piala Dunia (PPD)  2014 Grup E Zona Asia di Stadion Utama lalu. Sedikitnya dua alasan Bepe, panggilan akrab Bambang, mengapa Timnas kalah.

Pertama, banyak pemain cedera, seperti Firman Utina, Hamka Hamzah. Kedua, kondisi fisik dan stamina pemain tergolong lemah disebabkan tak adanya kompetisi antarklub dalam enam bulan terakhir yang menjadi ajang latihan fisik para pemain.

Sedangkan komentar koordinator tim nasional Indonesia, Bob Hippy menilai kekalahan Indonesia atas Qatar wajar, terutama sekali karena para pemain tidak dalam kondisi siap untuk berlaga. Jika demikian kondisinya, pelatih sekelas Jose Mourinho pun tak akan mampu membawa perubahan signifikan buat Timnas.

Tegasnya, Hippy yang juga representatif pengurus PSSI ingin mempertahankan pelatih asal Belanda yang sempat berseteru dengan sejumlah pemain senior karena sifatnya yang cenderung menyalahkan pemain dan kurang bisa berempati apalagi menyatu dengan pemainnya.

Ketika Bambang Pamungkas dan sejumlah rekannya ‘curhat’ dengan pelatih Alfred Riedle sempat membuat pengurus PSSI berang. Hanya karena takut merusak kondisi Timnas saja akhirnya pengurus tetap mempertahankan pelatih dan para pemain. Ujung-ujungnya, anggota Komite Eksekutif PSSI ini menjamin bahwa PSSI tetap mempertahankan Rijsbergen. Ketika media coba menyoal evaluasi terhadap pelatih, Bob malah mengarahkan para pemainlah yang perlu dievaluasi.

Faktor kegagalan berikut

Tak pelak lagi, selain faktor pelatih yang tidak bisa menyatu dan kurang mampu menyelami karakter dan membangkitkan potensi anak asuhnya --sehingga menjadi salah satu dari tiga faktor dominan kegagalan Timnas, masih ada dua faktor lainnya yang juga punya andil besar kegagalan Gonzales dkk.

Pertama, kondisi kepengurusan (PSSI) yang masih bermasalah, baik di pusat maupun daerah-daerah, sehingga memengaruhi persiapan Timnas dan memecah konsentrasi para pemain. Di daerahnya para pemain tidak terpantau latihannya sehingga saat dipanggil masuk Timnas kondisinya sudah tak bagus lagi.

Persiapan Timnas di ajang PPD 2014 mencerminkan tidak sehatnya kepengurusan sehingga tidak heran kalau hasilnya gagal dan mengecewakan masyarakat. Masalahnya pengurus tahu bahwa untuk bisa berbicara dalam event sebesar PPD tantangannya sangat berat yang seharusnya dibarengi dengan persiapan yang jauh lebih terprogram dan matang dibandingkan saat menghadapi Piala AFF yang skupnya masih tingkat ASEAN. Begitupun hasilnya gagal juara karena dikalahkan Malaysia di final.

Saat persiapan menghadapi Piala AFF pengurus PSSI --walau masih dalam kemelut di bawah Nurdin Halid, namun masih lebih baik dan profesional. Terbukti mampu mengontrak pelatih sekaliber Alfred Riedle yang sudah dikenal dengan reputasinya mengangkat sejumlah negara sehingga mampu berbicara di level bergengsi. Jadi, persiapan di Piala AFF jauh lebih profesional ketimbang menghadapi event saat ini (PPD). Tak heran kalau hasilnya pun babak-belur, menjadi ‘kado pahit’ buat pengurus PSSI baru. Dan itu wajar jika pemain merasa jauh lebih tertantang berlatih, lebih terayomi di bawah pelatih  (Reidle) ketimbang Wim (saat ini).

Kedua, kompetisi yang semakin tidak jelas arahnya. Padahal, liga atau kompetisi merupakan parameter pembinaan tertinggi di Indonesia. Kita berharap kompetisi PSSI yang masih sarat dengan berbagai masalah segera dapat diputar pada tanggal 15 Oktober. Lewat kompetisi yang sehat diharapkan mampu melahirkan para pemain yang berkualitas sekaligus menjadi sarana bagi para pemain untuk melatih fisik dan mengasah kemampuan sehingga sewaktu dipanggil memperkuat Timnas fisik dan staminanya ikut mendukung (prima).

Sungguh ironis melihat kondisi stamina para pemain Timnas. Ini kalau dilihat atau dibandingkan antara pemain old crack sekelas Gonzales usia kepala tiga dengan rekan-rekannya yang masih berusia 20-an tahun. Fisik Gonzales malah lebih prima dan dia masih mamu menjemput bola ke bawah, sementara rekan-rekannya sudah kehabisan stamina sehingga sangat mengganggu permainannya, terutama terlihat saat melakukan wall pass maupun umpan-umpan yang kurang terarah sampai kontrol bola dan dribble sehingga tidak heran kalau Firman Utina dkk selalu mudah kehilangan bola.

Penutup

Tentu saja masih banyak lagi faktor yang menyebabkan kegagalan Timnas di ajang internasional. Kondisi sepakbola Indonesia bisa dikatakan semakin menurun, sementara negara-negara lain semakin maju karena pengurus PSSI masih belum sadar juga pentingnya pembinaan yang teratur lewat jenjang usia dini.

Oleh karena itu kompetisi berjenjang dari anak-anak, remaja, usia 19, 21, 23 dan senior tidak bisa ditunda-tunda. Memang berat, tapi itulah tugasnya pengurus untuk memutar roda kompetisi sebagai ajang pembinaan pemain wajib diprioritaskan. Stop pemanggilan pemain secara mendadak (instan) yang terbukti gagal mengangkat Timnas walau mengontrak pelatih asing sekaliber apapun juga.

Jika kompetisinya sudah berjalan dengan baik, perangkat lainnya ikut menyesuaikan diri, maka upaya pencarian pemain tidak sulit. Sangat banyak materi pemain kita tersebar di 33 provinsi, apalagi ditambah dengan program naturalisasi. Tapi yang disebut terakhir jangan dijadikan prioritas sebagai jalan pintas. Utamakan kompetisi internal, peman naturalisasi hanya sebagai pelengkap, dan pemicu bangkitnya sepakbola Indonesia di masa mendatang.

http://www.waspada.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar