Pemain Naturalisasi, Bukan Kucing Dalam Karung


Hati-hati, PSSI!
Jika kualitas menjadi patokan, maka Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) jangan sembrono melakukan naturalisasi. Why? Karena pemain naturalisasi diproyeksikan untuk memperkuat timnas, senior maupun timnas U-23. 

Harus diakui, Indonesia sangat membutuhkan 'donor' pemain, khususnya pemain asing serta pemain keturunan yang masih memiliki darah Indonesia. Hanya saja, PSSI harus melakukan seleksi ketat. Dalam makna lain, jangan membeli kucing dalam karung. Bahaya!

Cristian Gerrard Alfaro Gonzales adalah contoh jitu, bagaimana seharusnya mendapuk pemain naturalisasi. El Loco - panggilan akrab suami Eva Nurida Siregar - pemain jempolan. Bomber kelahiran Montevideo, Uruguay, 30 Agustus 1976 sejauh ini masih memegang rekor topskor Djarum ISL. El Loco sudah empat kali membukukan diri sebagai pencetak gol terbanyak.

Tua-tua keladi. Makin tua makin jadi. Tak lama setelah dinaturalisasi, mantan mesin gol PSM Makassar, Persik Kediri, dan Persib Bandung langsung memperkuat timnas senior di ajang Piala AFF 2010. Usia di atas 30 tahun tak membuat pemain yang kini membela Persisam Samarinda, Kalimantan Timur, lamban bergerak dan gampang loyo. Skilnya masih oke, begitu pula staminanya. 

Panen pujian tak membuat El Loco besar kepala. Semakin dipuji, semakin rendah hati dia. Hebatnya, dia tak pernah mangkir latihan. "Kawan, aku ini hidup dari sepak bola. Bagaimana mungkin aku bisa menomor duakannya," kata El Loco, usai latihan timnas senior di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta beberapa waktu lalu.

Beda dengan El Loco, Kim Jeffrey Kurniawan, yang juga pemain naturalisasi gagal memperkuat timnas U-23 yang akan diterjunkan di ajang SEA Games 2011, November mendatang. Penyerang kelahiran Mühlacker, Jerman, 23 Maret 1990, gagal seleksi dan dipulangkan ke klubnya, Persema Malang. 

Kim masih kalah kelas dari pemain-pemain lokal, katakanlah seperti Oktovianus Maniani, Yongki Aribowo, atau Ferdinand Sinaga. Kim memang kudu punya jam terbang tinggi, laiknya El Loco. 

Bagaimana dengan lima pemain yang baru dinaturalisasi? Apakah mereka laik membela panji-panji Merah Putih? Sekali lagi, kalau kualitas menjadi tolok ukur, maka kita sepakat mengatakan Greg Nwokolo dan Victor Igbonefo layak masuk timnas senior. Keduanya, jelas, bukan muka baru di blantika sepak bola Indonesia. Dari sekian pemain asing yang bermain di Djarum ISL, kedua pemain ini, boleh dibilang, masuk kategori 'berkelas'. Sebelum berlabuh di markas Pelita Jaya, keduanya adalah pilar di tim masing-masing: Greg di Persija, Victor di Persipura. 

"Kabar baik bagi kita, jika sekarang Greg dan Victor diberi kesempatan membela timnas senior. Kita sama-sama sudah tahu bagaimana kemampuan mereka," kata Hardimen Koto, pengamat sepak bola nasional.

Tiga pemain naturalisasi lainnya, yakni Jhonny van Beukering, Stefano Lilipaly, dan Tonnie Cussel masih susah kita definisikan. Soalnya, seperti halnya Kim ketika baru datang ke Indonesia, ketiganya belum pernah merasakan 'ganasnya' kompetisi dalam negeri. Itulah sebabnya, Rahmad Darmawan, pelatih timnas U-23 tak begitu 'ngotot' untuk memasukkan ketiganya ke dalam skuad. Memang sih, ketiganya masih terikat kontrak dengan klub masing-masing. Hanya saja, seperti kata wejangan lawas, masih banyak jalan menuju Roma. Artinya, kalau ketiganya punya kemampuan wah, PSSI pasti rela berjibaku agar keduanya bisa bergabung bersama Yongki Aribowo dan kawan-kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar